JAKARTA - Musim kemarau 2026 diperkirakan akan membuat sebagian besar wilayah Jawa Timur menghadapi kondisi yang lebih kering dari biasanya. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebutkan bahwa perubahan dinamika atmosfer dan laut global menjadi faktor utama fenomena ini.
Sekitar 56,9 persen wilayah Jawa Timur diprediksi mulai memasuki musim kemarau pada Mei 2026. Namun, awal musim kemarau tidak serentak karena beberapa daerah mulai kering lebih awal pada April, sementara daerah lain baru memasuki kemarau pada Juni.
Sebaran Wilayah dan Durasi Kemarau
BMKG memperkirakan sekitar 75 persen wilayah Jawa Timur akan mengalami curah hujan di bawah normal selama musim kemarau. Kondisi ini membuat musim kemarau tahun ini berpotensi lebih panjang dan menimbulkan dampak lebih luas dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Kepala Stasiun Meteorologi Kelas I Juanda, Taufiq Hermawan, mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada. Potensi kekeringan dapat memengaruhi berbagai sektor, termasuk ketersediaan air bersih dan pertanian.
Penyebab Kemarau Lebih Kering
Fenomena El Nino diperkirakan muncul pada pertengahan hingga akhir 2026 dengan probabilitas sekitar 50 hingga 60 persen. Fenomena ini biasanya memicu penurunan curah hujan di Indonesia, sehingga musim kemarau terasa lebih panjang dan intensitas kekeringannya meningkat.
Selain itu, dinamika atmosfer dan pemanasan global turut memperkuat kemungkinan musim kemarau ekstrem. BMKG menekankan perlunya mitigasi agar dampak cuaca ekstrem dapat dikendalikan.
Dampak Kemarau Terhadap Sektor Pertanian
Kemarau panjang berpotensi menimbulkan gagal panen di sektor pertanian. Kekeringan dapat mengganggu suplai air irigasi dan menurunkan produktivitas tanaman pangan penting di Jawa Timur.
Petani disarankan mulai melakukan langkah antisipasi, seperti konservasi air, pengaturan jadwal tanam, dan penggunaan varietas tahan kekeringan. Hal ini menjadi strategi penting agar produksi pangan tetap stabil selama musim kemarau.
Risiko Kekurangan Air Bersih
Masyarakat berisiko menghadapi kesulitan air bersih jika curah hujan terus di bawah normal. Daerah perkotaan maupun pedesaan perlu menyiapkan cadangan air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari selama puncak musim kemarau.
Pemerintah daerah juga diimbau menyiapkan sumur darurat, tangki penampung, dan sistem distribusi air sementara agar pasokan tetap lancar.
Potensi Kebakaran Hutan dan Lahan
Kondisi kemarau yang lebih kering meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan. BMKG mengingatkan masyarakat untuk lebih berhati-hati dalam membakar sampah atau lahan, serta mematuhi aturan larangan membakar hutan.
Kerja sama antara aparat pemerintah dan masyarakat sangat dibutuhkan untuk menekan risiko kebakaran dan kerusakan lingkungan akibat kemarau panjang.
Langkah Antisipasi yang Dianjurkan
Masyarakat dan pemerintah daerah disarankan mulai melakukan mitigasi sejak akhir musim hujan. Persiapan berupa pengelolaan air, edukasi publik, dan kesiapan sektor pertanian menjadi kunci meminimalkan dampak musim kemarau.
Dengan langkah antisipasi tepat, dampak musim kemarau 2026 yang lebih kering dapat diminimalkan. Kesadaran dini akan kondisi cuaca ekstrem akan membantu masyarakat menghadapi tantangan selama beberapa bulan ke depan.