JAKARTA - Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) menilai Indonesia memiliki keunggulan yang dapat memperkuat posisi industri furnitur nasional. Situasi konflik di Timur Tengah membuat pembeli global mencari negara dengan rantai pasok stabil dan produksi dapat diandalkan, serta lingkungan bisnis yang aman.
Ketua Umum HIMKI, Abdul Sobur, menyebut stabilitas politik di Indonesia menjadi modal utama. Dukungan sistem legalitas kayu melalui Sistem Verifikasi Legalitas dan Kelestarian (SVLK) serta basis industri yang berkembang puluhan tahun menempatkan Indonesia pada posisi strategis di pasar furnitur global.
Namun, Sobur mengingatkan bahwa kenaikan biaya logistik dan energi dunia menjadi tantangan. Hal ini dapat memengaruhi biaya distribusi dan produksi bagi pelaku industri furnitur dalam negeri.
Nilai Tambah Produk dan Kreativitas Desain
Keunggulan utama furnitur Indonesia terletak pada nilai tambah yang melekat pada setiap produk. Industri domestik menggabungkan kekayaan material alami seperti kayu, rotan, dan bambu dengan keahlian kriya turun-temurun.
Selain itu, desain produk furnitur Indonesia terinspirasi dari keragaman budaya Nusantara. “Keunggulan Indonesia bukan hanya pada produksi, tetapi pada kreativitas desain dan nilai budaya yang melekat pada setiap produk. Inilah yang menjadi diferensiasi furnitur Indonesia di pasar global,” tambah Sobur.
Nilai budaya yang dibawa setiap produk menjadi alasan utama pembeli internasional menaruh minat tinggi. Kreativitas ini membuat furnitur Indonesia lebih bernilai dibandingkan produk massal dari negara lain.
Pameran IFEX 2026 Sebagai Mesin Promosi
Untuk memperkuat daya saing, HIMKI menyelenggarakan International Furniture Expo (IFEX) 2026 pada 5–8 Maret di ICE BSD City, Tangerang, Banten. Pameran ini menjadi ruang bagi produsen nasional memperkenalkan kekuatan industri furnitur berbasis kreativitas, keberlanjutan, dan nilai budaya.
Melalui IFEX, produsen dapat bertemu langsung dengan pembeli dari berbagai negara. Hal ini memudahkan pembangunan hubungan bisnis jangka panjang sekaligus memperluas akses pasar internasional.
Pameran ini juga berfungsi sebagai platform edukasi tentang keunggulan furnitur Indonesia. Produsen dapat memamerkan inovasi desain, material berkelanjutan, dan teknik kriya tradisional kepada audiens global.
Target Ekspor dan Pertumbuhan Industri
HIMKI menargetkan ekspor furnitur Indonesia meningkat hingga 6 miliar dolar AS pada 2030. Pameran IFEX menjadi salah satu mesin utama promosi dan ekspansi pasar global.
Dalam lima tahun ke depan, industri furnitur dan kerajinan Indonesia diproyeksikan tumbuh lebih kuat. Hal ini didukung oleh kebijakan pemerintah, mulai kemudahan ekspor, penguatan bahan baku, hingga dukungan pembiayaan bagi pelaku industri.
Sobur optimistis bahwa kombinasi stabilitas politik, sistem legalitas kayu, dan nilai budaya akan memacu daya saing produk. Dengan dukungan pemerintah dan upaya promosi yang tepat, furnitur Indonesia siap menghadapi kompetisi global.
Dukungan Pemerintah dan Hilirisasi Kayu
Kementerian Perindustrian menargetkan Indonesia menjadi hub produksi manufaktur furnitur global. Hal ini dilakukan melalui penguatan hilirisasi kayu berkelanjutan dan peningkatan daya saing industri nasional.
Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita, menegaskan sektor furnitur bersifat padat karya dan mampu menciptakan nilai tambah bagi ekonomi. Sektor ini juga menyerap ratusan ribu tenaga kerja serta terhubung langsung dengan pasar global yang nilainya lebih dari 736,21 miliar dolar AS.
Dalam lima tahun mendatang, Indonesia diharapkan tidak hanya meningkatkan kapasitas produksi. Namun juga mampu memimpin dalam aspek desain dan keberlanjutan, sehingga posisi industri furnitur nasional semakin kokoh di panggung internasional.
Industri furnitur Indonesia memiliki kombinasi unik antara tradisi, inovasi, dan keberlanjutan. Kolaborasi antara pelaku industri dan pemerintah diharapkan memperkuat posisi negara sebagai pemain utama di pasar furnitur global.